Exception

Week 15
a songfic challenge from Ema
Based on “The Only Exception” by Paramore.

 

 

Katanya cinta itu indah.

Benar, cinta itu indah. Dan memperdaya.

 

Ayahku yang dibutakan oleh cinta, memilih untuk menghancurkan keluarga yang susah payah dibentuknya dengan kedua tangannya sendiri. Sepertinya Ayah menyesal. Tapi Ibuku, yang tidak bisa menerima perlakuan Ayah, memilih untuk tidak diam. Ia meneriakkan hatinya dengan lantang. Di balik pintu aku melihat mereka, melihat Ayah berlalu dan Ibu terduduk lemah. Setelah itu aku tidak pernah lagi melihat Ayah kembali ke rumah.

Kenangan tentang Ayah rupanya membekas dalam di batin Ibu. Di setiap kesempatan, kapanpun ia ingat, Ibuku selalu berkata, “Laki-laki itu semua sama saja, semuanya brengsek” dan berpesan padaku agar jangan terperdaya cinta seperti ‘pria itu’, atau seperti dirinya sebelum bertemu dengan Ayah.

Aku juga tadinya ingin terus mempercayai hal itu.

Tapi kemudian dia datang, dengan senyuman lebar seperti etalase deretan gigi khas-nya itu, mengacaukan semuanya.

Mungkin aku akan menyesalinya.

Continue reading Exception

Advertisements

Setidaknya.

Week 14
Challenge from Ema: “Copywriter”

 

Sehat ke sakit. Cinta ke benci. Hidup ke mati. Segala sesuatunya bisa berubah dalam sekedip mata, satu tarikan nafas, bahkan sepotong kata yang terucap dalam sepersekian detik hingga seringkali kita tidak menyadarinya. Semua itu dinamakan ‘takdir’.

Katanya, segala sesuatu di kehidupan ini punya takdirnya masing-masing. Takdir itu, katanya, sudah ditentukan sejak awal segalanya diciptakan.

Aku mungkin juga sudah ditakdirkan seperti ini. Tumbuh besar seorang diri tanpa kehadiran kedua orang tua. Dikhiniati orang yang dicintai. Kemudian… harus mati.

Kalau begitu, apa kedatangannya di hidupku yang singkat ini juga perbuatan takdir?

Aku mengangkat kakiku bergantian, melangkah menyusuri sebuah koridor yang sarat aroma karbol.

Dulu aku menerima apapun itu yang ditakdirkan untukku. Tapi kalau benar dia juga datang karena takdir, maka saat ini aku sedang berjalan melawan takdirku. Continue reading Setidaknya.

Pertemuan Pertama

organic-italian-tomato-sauces-delicious-and-sons-800x534

Challenge from Fajrin: “Kongres” [W-14]

 

“Tapi stok kita udah abis, Bro. Ini lagi masuk-masukin properti ke mobil. Lu di mana sih?”

“Oh kebetulan. Di jok kedua sebelah kanan ada kardus, itu ada stok enam pieces. Coba keluarin terus suruh siapa kek yang ada di situ, bawa ke taman belakang gedung ini. Nggak jauh dari gudang”.

“Buat siapa, bro?”

“Eh, tapi tunggu, satu cup yang ada tulisan nama orang nggak usah dikeluarin. Taro aja di situ”.

****

Aku melihat mata itu kembali. Aku yakin tak salah lihat. Dia pemilik mata yang selalu berbinar ketika menggodaku melamun di jendela kaca kelas. Tapi, tadi tak kulihat lagi keceriaan itu dari matanya. Apa mungkin karena tertutup kacamata? Rambutnya pun pendek, persis seperti Dian Sastro yang baru-baru ini memangkasnya, manis, tapi badannya, mengapa terlihat lebih kurus?

Dinar. Banyak perubahan yang kulihat padamu hari ini. Tapi sesungguhnya akulah yang paling banyak berubah. Dan aku tahu kamu membencinya kan?

Dari kejauhan kulihat kamu mengobrol dengan seseorang yang baru saja merokok bersamaku. Tanganmu yang kecil itu menyodorkan handphone ke laki-laki itu. Mulutmu banyak berbicara, tapi juga banyak mendengarkan. Sesekali kamu juga mengangguk mendengar penjelasan dia.

Ah Dinar, aku sungguh rindu bagaimana kamu dulu mewawancaraiku seperti itu juga saat SMA. Menggali informasi sebanyak mungkin tentangku dan mengakali bagaimana aku harus menjawab. Masihkah kamu penasaran menyanyaiku banyak hal?

Barangkali hanya satu yang tak pernah berubah darimu dan aku suka melihatnya. Aku suka bagaimana kamu melakukannya dengan begitu antusias. Matamu berbinar-binar saat menemukan dan menyantapnya. Katamu, itu adalah surga lain yang pernah Tuhan ciptakan ke dunia dan bagi siapapun yang pertama kali membuat olahan seperti ini, kamu akan sangat-sangat berterima kasih karena sudah memberikan kebahagiaan bagimu.

Apa kamu masih penasaran siapa yang pertama kali membuat masakan seenak itu, Nar? Dan aku, saat ini mencoba menjadi orang yang juga menghadirkan bahagia itu untukmu meski hanya dalam sebuah kaleng sederhana dan instan dari jamur kalengan yang saat ini ada di tanganmu, Nar.

Layar handphoneku berbunyi.

“Kenapa, Bi?”

“Lu di mana sih? Kita mau pulang nih. Lama-lama gue bawa lari juga nih mobil lu,” di sebrang telpon, temanku, Farabi Abdulllah bin Jabbar, keturunan Depok-Arab kaya raya karena bapaknya salah satu anggota kongres di pemerintahan Saudi, membuatku harus meninggalkan Dinar dari balik balkon ini. Dan jalan satu-satunya untuk keluar dari balkon ini melewati taman di mana Dinar masih bersama laki-laki yang merokok bersamaku tadi.

Aku menuruni tangga lalu mengambil jalan sedempet mungkin dengan tembok di lantai satu. Sambil menunduk, aku melirik mereka. Samar-sama kudengar Dinar berkata, “Mbak ini kok di kemasan jamur kalengannya ada tulisan “Dinar”-nya?”

Langkahku berhenti. WTF, jangan-jangan si onta salah ngasihin kemasannya.

“Oh, mmm… kenapa ya, saya nggak tau. Oh, anu mungkin… bos saya itu kan keturunan Arab-Arab gitu, jadi dia nulis itu supaya bisnis makanan kemasan ini bisa menghasilkan pundi-pundi Dinar dari jamur instan ini,” kata pelayan perempuan di hadapan Dinar yang kusambut dengan helaan nafas panjang. Aku pun berjalan cepat menuju parkiran mobil dan siap-siap menyembur si onta Farabi.

(Bersambung)

Jamur Kalengan Dinar

bench-1421858_960_720

Challenge from Fajrin: “Generator” [W-13]

Aku melangkah secepat mungkin untuk sampai ke Dinar. Kuturuni anak tangga sambil memakai jas secara bersamaan. Langkah sepatuku memelan ketika kulihat Dinar masih berdiri di tempat tadi.

“Ah, brengsek banget lu, Nis. Setelah lama pergi, sekalinya ketemu langsung dicium. Dasar cowok nggak tahu diri,” aku memaki diriku tapi bibirku tersenyum. Kalau kupikir-pikir, aku juga senang karena hanya di depan Dinar aku tak menyembunyikan kelainan ini dan hanya dengan bibir Dinarlah, aku merasa tenang. Hidungku pasti kembang-kempis sekarang.

“Ayo, Nis,” tiba-tiba Dinar memanggilnya, sekonyong-konyong memecahkan lamunanku soal ciuman itu.

“Hah? Oh, oke,” kataku agak gelagapan.

“Mm.. oke singkat saja. Sebenarnya ini pertanyaan pesanan dari redakturku. Apa rencanamu setelah kembali ke Indonesia? Apakah kamu akan menggeluti dunia keartisan ini secara serius? Atau kamu akan bekerja sesuai ilmu kuliahmu di… Inggris?” katanya serius kali.

“Entahlah. Aku menyukai apa yang kukerjakan saat kuliah, utak-atik rumus eksak, eksperimen generator dengan rumus-rumus fisika, dan banyak halnya. Tapi, aku juga…” Bibirku kelu. Ingin aku bilang kalau aku juga senang di dunia ini karena kemungkinan bisa bertemu denganmu akan lebih sering ketimbang harus di dalam lab.

“Tapi menjadi orang terkenal ternyata enak ya, dikenal dan dibayar cukup tinggi,” kataku. Kulihat air muka Dinar terkejut mendengar jawabanku. Ah, Dinar, aku tidak mungkin menjawab yang sebenarnya. Ini bukan waktu yang tepat.

“Ah… jadi bagimu dunia artis menyenangkan dan kamu menikmati popularitasmu sebagai artis baru?” katanya yang hanya bisa kujawab dengan anggukan dan senyum lebar tapi, ah sungguh aku tak sanggup untuk mengatakan alasan yang sebenarnya.

“Oke, terima kasih atas waktunya Dennis atau… Dannish?”

“Mmm… seperti jamur kalengan instan ini,” kataku sambil mengambil makanan kalengan itu dan mengangkatnya, aku berkata, “lihat ini, jamur tumis yang biasanya ada di warteg-warteg, tapi siapa sangka, dia lahir dengan penampilan baru yang lebih praktis tapi dengan rasa yang sama dan tetap disukai bagi penggemar sejatinya. Orang yang menciptakan ini benar-benar kreatif,” kataku asal saja.

Sekarang air muka Dinar tak hanya terkejut, tapi kedua alisnya saling bertemu.

“Jadi tulis saja namaku Dannish Wijaya,” kataku sekali ucap dalam satu nafas seperti orang sedang ijab Kabul.

“Tapi, ke…?”

“Jangan tanya dan tulisan alasannya, aku tak bisa beritahu itu,” kataku dengan suara agak berat sebelum Dinar lebih jauh bertanya.

“Oh, gitu. Mmm.. lagi pula itu nggak masuk daftar pertanyaan pesanan redakturku. Cuma mau mastiin aja apakah spellingnya D-A-N-N-I-S-H?” tanyanya yang kujawab dengan anggukan.

‘’Satu lagi, aku ingin tanya, siapa laki-laki di atas balkon yang tadi bersamamu?’’

Aku menengok ke belakang, Tak kulihat lagi laki-laki itu di atas balkon. Aku coba mengingat namanya.

‘’Entahlah, aku nggak kenal. Tadi baru sekali bertemu di situ. Siapa ya namanya, mmm… halilintar? Sesuatu yang mengelilingi dunia gitu deh,’’ kataku.

‘’Hah?’’

‘’Khatulistiwa, ya? Ah, entahlah. Tadi aku tak sempat mendengar jelas karena buru-buru,’’ kataku.

‘’Buru-buru kenapa?’’

‘’Buru-buru… menemuimu di sini’’.

Aku bersumpah, dalam hati Dinar pasti tertawa ngakak mendengar jawabanku barusan. Aku ini idol apaan, belum apa-apa sudah kejebak ciuman di gudang, sekarang malah ketahuan mengaku di depannya. Aku jadi salah tingkah sampai-sampai kakiku kepentok kaki meja taman dan menumpahkan jamur tumis yang tadi sempat dimakan Dinar.

‘’Ah, maaf-maaf Dinar, aku nggak sengaja. Aku ganti, aku ganti jamurnya,’’ kataku yang coba memungut satu kaleng jamur yang masih disegel di bawah meja, tiba-tiba seorang perempuan membawa baki berisi banyak jamur kalengan instan.

‘’Jamur kalengan instannya kakak, silakan diicip, gratis’’. Aku dan Dinar melongo.

‘’Bukannya tadi testernya udah abis di dalam, mbak?’’ kata Dinar yang membuatku sedikit lega karena merasa mbak-mbak itu datang di waktu yang tepat.

On The Inside 

Week 13

Challenge from Ema: “Pengharum Ruangan”

Aku berdiri di depan sebuah rumah besar yang dikelilingi taman. Takjub.

“Ini… rumah kamu?”

Amara mengangguk cepat.

“Ayo masuk!”

Waktu aku menyetujui idenya untuk berkunjung ke rumahnya, aku tidak pernah membayangkan kalau bentuk rumahnya bakal sebesar ini. Aku tahu Amara itu anak jenderal, tapi aku tidak pernah tahu rumah keluarga jenderal bisa sebesar ini.  Continue reading On The Inside 

Lucu

 

Week 12

Challenge dari Ema: “Stand Up Comedy”

Setiap orang punya hal yang paling disesali dalam hidupnya.

Bagi Dona, hal itu adalah melakukan sesuatu yang membuat seseorang yang penting baginya, pergi meninggalkannya.

Sejak itu, aku tidak pernah lagi melihat Dona tersenyum. Aku yang tumbuh sambil melihat senyum itu, tidak suka dengan kondisinya sekarang. Karena itulah kuputuskan untuk menjadi seseorang yang bisa membuatnya tertawa. Melamar ke sebuah acara TV untuk ikut audisi para pemain kata, menertawai hal kecil yang terlontar spontan dari otak dan mulut dan membuat kejadian memalukan jadi bahan gurauan.  Continue reading Lucu

Di Balkon Gudang itu

thomas-mcdonell-from-prom-nite

Challenge from Fajrin: “Jamur Kalengan” [W-12]

Jantung Danish hampir saja copot ketika dia membalikkan badannya usai menutup pintu gudang itu. Seseorang menuju ke arahnya. Ia langsung memutar otak untuk mengelak alasan apa yang akan dia katakan pada orang yang langkah kakinya semakin dekat ke arahnya berdiri. Apakah dia melihat apa yang barusan dilakukannya dengan Dinar?

“Apakah dia wartawan? Jangan-jangan satpam di sini… Tapi, kalau diperhatikan, orang ini bukan karyawan gudang sambal ini. Rambutnya gondrong dan penampilannya meski formal tapi santai sekali,” otak Danish terus menduga-duga.

“Wah gila banget acara di dalam, hampir tidak bisa nafas,” kata pria itu menggelengkan kepalanya sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari balik jasnya.

“Iya, peserta yang datang banyak sekali,” Denish menimpali, sedikit agak gugup.

Belum sempat dia menyalakan korek api, laki-laki itu terlihat menawarkan rokok ke Danish.

Danish yang sudah lama berhenti merokok terpaksa menerimanya. Dilepaskannya jas dan dilipatnya perlahan lalu diletakkan berjarak di pinggir balkon mereka berdiri agar asapnya tak menempel. Continue reading Di Balkon Gudang itu